Masih perlukah Pengkaderan Mahasiswa Baru saat ini?

Pada minggu ketujuh di semester ini pengkaderan buat mahasiswa baru berlangsung di beberapa Fakultas. Sehari setelah acara pengkaderan itu, tiba-tiba kami dikejutkan dengan adanya seorang mahasiswa baru yang meninggal. Kematian bukanlah berita luar biasa, tapi yang luar biasanya karena kematian itu dikaitkan dengan Pengkaderan Mahasiswa Baru.
Beragam berita yang mucul terkait dengan peristiwa itu. Beberapa mahasiswa senior yang ada di ruanganku mendengar berita itu segera pamit untuk melayat ke RS Wahi**** Sud****. Tentu saja, setelah menjelaskan apa yang terjadi dalam pengkaderan mereka versi mereka.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Tulisan ini hanya membandingkan kondisi saat ini dengan kondisi waktu kami mahasiswa dulu. Jika dalam perjalanannnya kemudian ada pihak yang disalahkan tentu saja itu tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Jika Pimpinan Universitas segera mengeluarkan pernyataan bahwa Pengkaderan dilarang, itu juga bukan oleh tulisan ini.

Tulisan ini muncul hanya untuk mengingatkan bahwa kita selalu memerlukan obyek penderita terhadap kasus yang menimpa kita.
Apakah Pengkaderan Maba tahun ini Lebih berat? Jelas tidak! Tapi situasi yang dialami mahasiswa baru mungkin sama saja. Perasaan menghadapi situasi pengkaderan tetap sama.
Apakah karena situasi yang diciptakan universitas yang membuat pengkaderan menjadi salah Arah? Bisa jadi. Faktanya, mahasiswa senior yang melakukan pengkaderan juga produk Dari sistem yang diciptakan universitas.
Apakah dosen yang tidak menjalankan fungsi pengawasan? Ini pasti iya, soalnya tergantung SK dan undangan-itupun belum tentu melakukannya.
Mahasiswa selalu beranggapan bahwa mahasiswa baru harus diberi perlakuan ekstrim agar bisa menjadi “MAHASISWA”. Universitas juga menyatakan Mahasiswa baru harus diberi perlakuan beda agar dapat jadi “MAHASISWA”. Tapi ternyata perlakuan untuk itu berbeda. Dan ketika berbeda, pelaksanaannya menjadi dua Kali lebih berat.
Jadi, siapa yang mesti disalahkan? Masyarakat telah menghakimi mahasiswa pelaksana pengkaderan dengan caranya sendiri. Bahkan ketika simpati dan perasaan bersalah telah mereka tunjukkan. Universitas pun sudah menugaskan Komisi disiplin untuk menangani Hal itu. Hanya sayangnya, rasa bersalah hanya satu Arah. ….
Untuk renungan, jika Ada mahasiswa diberi tugas oleh dosennya, kemudian sehari berikutnya dia meninggal. Mungkin Rasa bersalah Dan simpati/empati ada. Tapi tudingan Dan penghakiman Dari masyarakat Akan sekejam dengan tudingan Dan penghakiman Bagi panitia Dan pengurus lembaga mahasiswa saat ini?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s