Surat dari Guru untuk yang Peduli …(sebuah Note seorang teman)

Berikut adalah Note yang ditulis seorang teman (Hamran Sunu) dalam Notenya. Apa yang tertulis di bawah ini seperti apa yang ada dalam Notenya, hanya nama sekolah dan nama yang terkait dengan kejadian ini saya inisialkan, sebagai bentuk prasangka tidak bersalah, walaupun mungkin setelah anda membaca ini dan menyimak kejadiannya sangat besar kemungkinannya BERSALAH. Kepada temanku Hamran, Mia, dan Ribka simpati kami untuk kejadian ini…

Selepas mengikuti Makassar International Writers Festival 2011 (MIWF 2011), tadinya saya ingin menulis artikel tentang gegap gempita festival ini. Namun di hari terakhir festival (Jumat/17/5) kelegaan saya telah mengikuti festival ini diiringi kabar miris. Saya yang mencuri-curi waktu antara festival dan tugas saya sebagai guru di SD B******, di hari terakhir tahun ajaran (bertepatan dengan hari terakhir festival), mendapat Surat Berakhirnya Kontrak dari pihak yayasan. Saya dan dua rekan guru lain, diminta untuk menandatangani surat yang seolah-olah kami buat untuk mengakhiri kontrak kami sebagai guru SD di B******.
Persoalan inilah yang kemudian menyita saya. Surat itu; Miris. Juga lucu. Anda tahu kan sesuatu yang lucu itu kadang berujung memalukan?
Surat berakhirnya kontrak itu seolah-olah dibuat oleh kami dan telah ditandatangani oleh N***** D**********, sebagai yang mengetahui entah selaku apa, sebab tak ada jabatan beliau yang tertulis. Mungkin sebagai kepala HRD. Mungkin.
Saya telah tiga tahun bekerja di sekolah yang muridnya pandai berbahasa Inggris ini. Dua rekan guru saya yang lain telah lebih dulu bekerja. Setahu saya seseorang yang bekerja lebih dari dua tahun harusnya sudah dianggap sebagai pegawai tetap, bukan pegawai kontrak. Apalagi dilihat dari jenis pekerjaannya, pekerjaan kami adalah pekerjaan yang berlangsung secara terus menerus bukan pekerjaan dalam jangka waktu tertentu. Hanya pekerjaan yang selesai dalam waktu tertentu saja yang memakai sistem kontrak. Dan itu bukan pekerjaan kami. Pekerjaan guru.
Saya dan dua rekan guru yang lain menolak menandatangani Surat Berakhirnya Kontrak tersebut. Kami membawa pulang surat itu dan akan memelajari lebih dahulu. Kepala sekolah, atas perintah N***** D**********, meminta kami untuk tidak boleh membawa pulang surat itu. Katanya jika tak ingin menandatangani, surat itu harus diserahkan kembali. Kami kukuh untuk tetap membawanya pulang. Kepala sekolah kemudian meminta lagi surat itu, dan berkata, kami tidak boleh keluar dari lingkungan sekolah sebelum menyerahkan surat itu kembali.
TENTU SAJA kami tak akan memberikan surat ini kembali. Kemudian kepala sekolah mengatakan akan dilakukan pemaksaan untuk mengambil surat itu. Kami menyahut, lihat apa yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah (baca: yayasan) untuk bisa mengambil surat sakti itu. Pihak sekolah masih juga berkeras agar surat itu dikembalikan, kali ini mereka melunak, dengan iming-iming salinan surat itu akan diberikan. Atau, materai Rp 6.000 itu dicabut dari suratnya dan dikembalikan kepada mereka. Semoga bukan karena menyayangkan materai berjumlah tiga seharga Rp 18.000 akan merugikan mereka secara materi. Walhasil, kami melenggang keluar dengan membawa surat itu. Kepada kami, apa yang bisa “kalian” lakukan?
Surat itu lucu. Ter tanggal 17 Juni 2011, dan kontrak kami berakhir pada hari itu pula. Tanggal kontrak harusnya tertulis pada hari pertama kami tidak lagi bekerja, padahal seharian itu kami sibuk melayani orang tua murid yang datang mengambil raport kenaikan kelas. Berita baiknya, tak ada murid yang tinggal kelas.
Surat itu lucu. Diberikan pada saat jam kerja baru saja berakhir. Tepatnya tahun ajaran lalu baru saja dikemas. Apa yang ada di pikiran pimpinan B******/yayasan saat memikirkan untuk melakukan itu? Padahal dalam surat kontrak yang kami tandatangani setahun lalu, tertulis, pemberitahuan berakhirnya kontrak harus disampaikan 3 bulan sebelum masa kontrak berakhir. Atau tepatnya disampaikan pada bulan Maret 2011. Apakah mereka lupa hal itu?
B****** School, Oh B****** … Bulan Juni ini, SD Nasional plus yang memadukan kurikulum asing dan kurikulum nasional ini genap berusia 11 tahun. Perayaannya selalu dirangkaikan dengan perpisahan murid kelas 6, June Celebration. Bila dua acara bisa disatukan, itu menghemat biaya. Apalagi Bambini saat ini tengah membangun gedung baru yang tepat berada di belakang lokasi lama di Jl Masjid Raya. Gedung baru ini mulai tampak menjulang dan seakan memeluk bangunan lama di depannya.
Ketika diterima mengajar, saya senang berada di sini. Murid-muridnya lebih fasih berbahasa Inggris dibanding saya. Para muridnya tentu saja pandai, dan mereka selalu memenangkan lomba setiap mengikuti berbagai kompetisi di luar. Perlahan saya menyadari yang membuat saya senang berada di sini adalah karena kami kadung dekat dengan murid-murid. Dengan anak-anak itu.
Saya, atau tepatnya kami para guru tidak begitu dekat dengan pimpinan. Komunikasi hanya satu arah. Mereka menyampaikan sesuatu dan (harus) dilaksanakan oleh kami. Hampir tak pernah ada pertemuan, diskusi, perbincangan hangat apalagi. Sya tahu ini kondisi yang tak lucu lagi. Seperti surat di atas.
Oh ya, tentang surat berakhirnya kontrak itu, saya dan kedua rekan guru sama sekali tidak berkeberatan untuk menandatangani surat berakhirnya kontrak itu, tapi kami bukan padanan yang sama. Surat itu lucu, padahal ini sesuatu yang serius. Kami orang yang cukup tahu bagaimana urusan perjanjian mempunyai sistematika dan landasan.
Surat itu tidak mengindikasikan demikian. Kami bahkan berprasangka baik, dengan membawanya pulang dan memelajarinya lebih dulu. Ternyata diakhir pelajaran pembacaan surat itu, hasilnya sama, surat itu lucu, bahkan memalukan!
Kepada pimpinan B****** School, saya mewakili para guru ingin mengetuk pikiran Anda, dan terutama hati Anda (kami berusaha untuk tidak melakukan lebih dari mengetuk). Bukalah, dan dengarkan kami.
Begini, Dunia ini, dunia pendidikan dibangun atas banyak hal. Tidak hanya berkaitan pembayaran SPP tepat pada waktunya oleh orang tua murid, tidak hanya menyangkut kami harus disiplin dan rutin makan buah agar tidak sakit, tidak hanya menyangkut berapa denda kami setiap bulan karena terlambat dan atau tak hadir. Tidak hanya menyangkut efisiensi berbagai hal. Kalau seperti itu, itu hanya tentang Anda, sedikit kami dan orang tua. Itu bukan tentang pendidikan.
Tentang pendidikan yang kami maksud, ilustrasi sederhananya seperti ini: Kami semua, elemen yang ada di B****** School berkumpul bersama, berdiskusi hangat, membicarakan apa yang terbaik buat aset terpenting sekolah ini: murid-murid dan guru. Mari bertukar pikiran dan berbagi pendapat agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai harapan. Kami tidak bisa mengajar dengan maksimal tanpa ada motivasi dan pandangan positif dari pimpinan dan yayasan. Dan kami tidak mendapatkan itu dari pimpinan kami.
Yang kami dapatkan justru berbagai ketidakjelasan aturan dan kesewenang-wenangan. Taruhlah mengenai keputusan berakhirnya kontrak sepihak tadi. Itu tidak jelas dan sewenang-wenang. Belum lagi beberapa hak kami yang tidak diberikan. Gaji di bawah standar untuk ukuran sekolah ‘elite’ macam B******. Beberapa tunjangan guru tetap yang diabaikan, jam mengajar yang tidak sesuai standar (1 jam di B****** , sama dengan 60 menit bukan 45 menit atau 35 menit seperti laiknya 1 jam pelajaran di sekolah lain). Masa libur guru yang singkat (misalnya liburan akhir tahun ajaran ini, murid libur 1 bulan, guru libur satu pekan). Dan beberapa hal yang tidak jelas lainnya.
Kalau begitu, mengapa kami bertahan? Karena kami tahu, kalau kami, para guru tak lagi bertahan, maka sekolah ini akan rubuh, karena kamilah penopangnya, kami masih memikirkan anak-anak didik yang kami ajar. Kamilah penopangnya, kami masih memikirkan anak didik yang kami ajar. Jangan dikira hobi merekrut guru baru secara beruntun akan menyelamatkan sekolah ini. Itu hobi yang harus ditinggalkan, karena itu hanya menunjukkan karakter pimpinan sekolah ini yang picik.
Dan suatu saat akan ada masanya tak ada lagi guru yang bisa direkrut. Itu karena calon guru itu (akhirnya) tahu, mereka direkrut hanya untuk segera dikeluarkan.
Kepada pimpinan B******, Apa yang kalian pikirkan tentang dunia pendidikan? Ini sekolah, bukan perusahaan. Jadikanlah B****** sebuah institusi pendidikan yang beradab yang terbuka pada dunia sekeliling, dan melaksanakan aturan sesuai standar yang telah ditetapkan. Negara kita punya hukum, kita punya Dinas Pendidikan, juga Dinas Tenaga Kerja. Bambini harus melakukan penyelenggaraan pendidikan yang sesuai instruksi lembaga-lembaga terkait.
Atau jika tidak, kami akan berusaha menunjukkan jalannya!
Dan tak ada lagi waktu yang paling tepat bagi kami para guru untuk menunjukkan jalan itu selain sekarang. Kami ingin menyaksikan B****** berada pada jalur yang normal, dan tentu saja diperlukan beberapa usaha.
Kami akan meyuarakan dan menyerukan hal ini ke berbagai pihak yang peduli pada keberlangsungan pendidikan bangsa. Ketidakjelasan dan kesewenang-wenangan ini tidak boleh dibiarkan berlangsung terus menerus. Ada saatnya itu harus dihentikan, dan inilah saatnya!
Hidup guru! Hidup Pendidikan bangsa!!

Makassar, 19 Juni 2011, 07.01 PM,

…. sebagaimana yang tertulis di note rekan saya, Hamran Sunu.

Diakhir pembacaan note itu, saya sedih dan meratapi pendidikan di Indonesia. Pendidikan kita kehilangan karakter karena Lembaga dan Institusi Pendidikan yang dibangun dijadikan sebagai pengeruk rupiah, mesin penghasil uang, bukan wadah tempat bersemainya karakter, kompetensi dan cita-cita luhur buat Bangsa….

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Surat dari Guru untuk yang Peduli …(sebuah Note seorang teman)

  1. Bu guru kaltim says:

    Ditanyakan dulu apa alasannya dikeluarkan? Kalau alasannya mengada ada ditolak aja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s