Persamaan Karakteristik Matriks Menggunakan Determinan Submatriks

Abstrak 

Paper ini membahas tentang persamaan karakteristik yang dijabarkan dari determinan submatriks dalam arah diagonalnya yaitu determinan dari matriks setelah menghilangkan beberapa baris dan kolom yang sama dari matriks semula. Sebagai pengenalan diperlihatkan persamaan karakteristik dari  matriks berukuran , . Koefisien untuk suku  adalah jumlah kombinasi determinan submatriks  dan , suku konstannya adalah determinan matriks . Bentuk tersebut kemudian akan diperumum untuk matriks bujur sangkar .

Kata kunci: Persamaan karakteristik, Determinan, Submatriks, minor utama.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Masih perlukah Pengkaderan Mahasiswa Baru saat ini?

Pada minggu ketujuh di semester ini pengkaderan buat mahasiswa baru berlangsung di beberapa Fakultas. Sehari setelah acara pengkaderan itu, tiba-tiba kami dikejutkan dengan adanya seorang mahasiswa baru yang meninggal. Kematian bukanlah berita luar biasa, tapi yang luar biasanya karena kematian itu dikaitkan dengan Pengkaderan Mahasiswa Baru.
Beragam berita yang mucul terkait dengan peristiwa itu. Beberapa mahasiswa senior yang ada di ruanganku mendengar berita itu segera pamit untuk melayat ke RS Wahi**** Sud****. Tentu saja, setelah menjelaskan apa yang terjadi dalam pengkaderan mereka versi mereka.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Tulisan ini hanya membandingkan kondisi saat ini dengan kondisi waktu kami mahasiswa dulu. Jika dalam perjalanannnya kemudian ada pihak yang disalahkan tentu saja itu tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Jika Pimpinan Universitas segera mengeluarkan pernyataan bahwa Pengkaderan dilarang, itu juga bukan oleh tulisan ini.

Tulisan ini muncul hanya untuk mengingatkan bahwa kita selalu memerlukan obyek penderita terhadap kasus yang menimpa kita.
Apakah Pengkaderan Maba tahun ini Lebih berat? Jelas tidak! Tapi situasi yang dialami mahasiswa baru mungkin sama saja. Perasaan menghadapi situasi pengkaderan tetap sama.
Apakah karena situasi yang diciptakan universitas yang membuat pengkaderan menjadi salah Arah? Bisa jadi. Faktanya, mahasiswa senior yang melakukan pengkaderan juga produk Dari sistem yang diciptakan universitas.
Apakah dosen yang tidak menjalankan fungsi pengawasan? Ini pasti iya, soalnya tergantung SK dan undangan-itupun belum tentu melakukannya.
Mahasiswa selalu beranggapan bahwa mahasiswa baru harus diberi perlakuan ekstrim agar bisa menjadi “MAHASISWA”. Universitas juga menyatakan Mahasiswa baru harus diberi perlakuan beda agar dapat jadi “MAHASISWA”. Tapi ternyata perlakuan untuk itu berbeda. Dan ketika berbeda, pelaksanaannya menjadi dua Kali lebih berat.
Jadi, siapa yang mesti disalahkan? Masyarakat telah menghakimi mahasiswa pelaksana pengkaderan dengan caranya sendiri. Bahkan ketika simpati dan perasaan bersalah telah mereka tunjukkan. Universitas pun sudah menugaskan Komisi disiplin untuk menangani Hal itu. Hanya sayangnya, rasa bersalah hanya satu Arah. ….
Untuk renungan, jika Ada mahasiswa diberi tugas oleh dosennya, kemudian sehari berikutnya dia meninggal. Mungkin Rasa bersalah Dan simpati/empati ada. Tapi tudingan Dan penghakiman Dari masyarakat Akan sekejam dengan tudingan Dan penghakiman Bagi panitia Dan pengurus lembaga mahasiswa saat ini?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tentang Rasaku…

Jika dalam cintamu, hatimu lebih sering terluka daripada digembirakannya maka lepaskanlah dia dari genggaman penuh khawatirmu.
Mengetahui satu kebohongannya lagi, membuat hal-hal lainnya semua adalah ketidakjujurannya menjalani perjalanan kami yang terakhir.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Surat dari Guru untuk yang Peduli …(sebuah Note seorang teman)

Berikut adalah Note yang ditulis seorang teman (Hamran Sunu) dalam Notenya. Apa yang tertulis di bawah ini seperti apa yang ada dalam Notenya, hanya nama sekolah dan nama yang terkait dengan kejadian ini saya inisialkan, sebagai bentuk prasangka tidak bersalah, walaupun mungkin setelah anda membaca ini dan menyimak kejadiannya sangat besar kemungkinannya BERSALAH. Kepada temanku Hamran, Mia, dan Ribka simpati kami untuk kejadian ini…

Selepas mengikuti Makassar International Writers Festival 2011 (MIWF 2011), tadinya saya ingin menulis artikel tentang gegap gempita festival ini. Namun di hari terakhir festival (Jumat/17/5) kelegaan saya telah mengikuti festival ini diiringi kabar miris. Saya yang mencuri-curi waktu antara festival dan tugas saya sebagai guru di SD B******, di hari terakhir tahun ajaran (bertepatan dengan hari terakhir festival), mendapat Surat Berakhirnya Kontrak dari pihak yayasan. Saya dan dua rekan guru lain, diminta untuk menandatangani surat yang seolah-olah kami buat untuk mengakhiri kontrak kami sebagai guru SD di B******.
Persoalan inilah yang kemudian menyita saya. Surat itu; Miris. Juga lucu. Anda tahu kan sesuatu yang lucu itu kadang berujung memalukan?
Surat berakhirnya kontrak itu seolah-olah dibuat oleh kami dan telah ditandatangani oleh N***** D**********, sebagai yang mengetahui entah selaku apa, sebab tak ada jabatan beliau yang tertulis. Mungkin sebagai kepala HRD. Mungkin.
Saya telah tiga tahun bekerja di sekolah yang muridnya pandai berbahasa Inggris ini. Dua rekan guru saya yang lain telah lebih dulu bekerja. Setahu saya seseorang yang bekerja lebih dari dua tahun harusnya sudah dianggap sebagai pegawai tetap, bukan pegawai kontrak. Apalagi dilihat dari jenis pekerjaannya, pekerjaan kami adalah pekerjaan yang berlangsung secara terus menerus bukan pekerjaan dalam jangka waktu tertentu. Hanya pekerjaan yang selesai dalam waktu tertentu saja yang memakai sistem kontrak. Dan itu bukan pekerjaan kami. Pekerjaan guru.
Saya dan dua rekan guru yang lain menolak menandatangani Surat Berakhirnya Kontrak tersebut. Kami membawa pulang surat itu dan akan memelajari lebih dahulu. Kepala sekolah, atas perintah N***** D**********, meminta kami untuk tidak boleh membawa pulang surat itu. Katanya jika tak ingin menandatangani, surat itu harus diserahkan kembali. Kami kukuh untuk tetap membawanya pulang. Kepala sekolah kemudian meminta lagi surat itu, dan berkata, kami tidak boleh keluar dari lingkungan sekolah sebelum menyerahkan surat itu kembali.
TENTU SAJA kami tak akan memberikan surat ini kembali. Kemudian kepala sekolah mengatakan akan dilakukan pemaksaan untuk mengambil surat itu. Kami menyahut, lihat apa yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah (baca: yayasan) untuk bisa mengambil surat sakti itu. Pihak sekolah masih juga berkeras agar surat itu dikembalikan, kali ini mereka melunak, dengan iming-iming salinan surat itu akan diberikan. Atau, materai Rp 6.000 itu dicabut dari suratnya dan dikembalikan kepada mereka. Semoga bukan karena menyayangkan materai berjumlah tiga seharga Rp 18.000 akan merugikan mereka secara materi. Walhasil, kami melenggang keluar dengan membawa surat itu. Kepada kami, apa yang bisa “kalian” lakukan?
Surat itu lucu. Ter tanggal 17 Juni 2011, dan kontrak kami berakhir pada hari itu pula. Tanggal kontrak harusnya tertulis pada hari pertama kami tidak lagi bekerja, padahal seharian itu kami sibuk melayani orang tua murid yang datang mengambil raport kenaikan kelas. Berita baiknya, tak ada murid yang tinggal kelas.
Surat itu lucu. Diberikan pada saat jam kerja baru saja berakhir. Tepatnya tahun ajaran lalu baru saja dikemas. Apa yang ada di pikiran pimpinan B******/yayasan saat memikirkan untuk melakukan itu? Padahal dalam surat kontrak yang kami tandatangani setahun lalu, tertulis, pemberitahuan berakhirnya kontrak harus disampaikan 3 bulan sebelum masa kontrak berakhir. Atau tepatnya disampaikan pada bulan Maret 2011. Apakah mereka lupa hal itu?
B****** School, Oh B****** … Bulan Juni ini, SD Nasional plus yang memadukan kurikulum asing dan kurikulum nasional ini genap berusia 11 tahun. Perayaannya selalu dirangkaikan dengan perpisahan murid kelas 6, June Celebration. Bila dua acara bisa disatukan, itu menghemat biaya. Apalagi Bambini saat ini tengah membangun gedung baru yang tepat berada di belakang lokasi lama di Jl Masjid Raya. Gedung baru ini mulai tampak menjulang dan seakan memeluk bangunan lama di depannya.
Ketika diterima mengajar, saya senang berada di sini. Murid-muridnya lebih fasih berbahasa Inggris dibanding saya. Para muridnya tentu saja pandai, dan mereka selalu memenangkan lomba setiap mengikuti berbagai kompetisi di luar. Perlahan saya menyadari yang membuat saya senang berada di sini adalah karena kami kadung dekat dengan murid-murid. Dengan anak-anak itu.
Saya, atau tepatnya kami para guru tidak begitu dekat dengan pimpinan. Komunikasi hanya satu arah. Mereka menyampaikan sesuatu dan (harus) dilaksanakan oleh kami. Hampir tak pernah ada pertemuan, diskusi, perbincangan hangat apalagi. Sya tahu ini kondisi yang tak lucu lagi. Seperti surat di atas.
Oh ya, tentang surat berakhirnya kontrak itu, saya dan kedua rekan guru sama sekali tidak berkeberatan untuk menandatangani surat berakhirnya kontrak itu, tapi kami bukan padanan yang sama. Surat itu lucu, padahal ini sesuatu yang serius. Kami orang yang cukup tahu bagaimana urusan perjanjian mempunyai sistematika dan landasan.
Surat itu tidak mengindikasikan demikian. Kami bahkan berprasangka baik, dengan membawanya pulang dan memelajarinya lebih dulu. Ternyata diakhir pelajaran pembacaan surat itu, hasilnya sama, surat itu lucu, bahkan memalukan!
Kepada pimpinan B****** School, saya mewakili para guru ingin mengetuk pikiran Anda, dan terutama hati Anda (kami berusaha untuk tidak melakukan lebih dari mengetuk). Bukalah, dan dengarkan kami.
Begini, Dunia ini, dunia pendidikan dibangun atas banyak hal. Tidak hanya berkaitan pembayaran SPP tepat pada waktunya oleh orang tua murid, tidak hanya menyangkut kami harus disiplin dan rutin makan buah agar tidak sakit, tidak hanya menyangkut berapa denda kami setiap bulan karena terlambat dan atau tak hadir. Tidak hanya menyangkut efisiensi berbagai hal. Kalau seperti itu, itu hanya tentang Anda, sedikit kami dan orang tua. Itu bukan tentang pendidikan.
Tentang pendidikan yang kami maksud, ilustrasi sederhananya seperti ini: Kami semua, elemen yang ada di B****** School berkumpul bersama, berdiskusi hangat, membicarakan apa yang terbaik buat aset terpenting sekolah ini: murid-murid dan guru. Mari bertukar pikiran dan berbagi pendapat agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai harapan. Kami tidak bisa mengajar dengan maksimal tanpa ada motivasi dan pandangan positif dari pimpinan dan yayasan. Dan kami tidak mendapatkan itu dari pimpinan kami.
Yang kami dapatkan justru berbagai ketidakjelasan aturan dan kesewenang-wenangan. Taruhlah mengenai keputusan berakhirnya kontrak sepihak tadi. Itu tidak jelas dan sewenang-wenang. Belum lagi beberapa hak kami yang tidak diberikan. Gaji di bawah standar untuk ukuran sekolah ‘elite’ macam B******. Beberapa tunjangan guru tetap yang diabaikan, jam mengajar yang tidak sesuai standar (1 jam di B****** , sama dengan 60 menit bukan 45 menit atau 35 menit seperti laiknya 1 jam pelajaran di sekolah lain). Masa libur guru yang singkat (misalnya liburan akhir tahun ajaran ini, murid libur 1 bulan, guru libur satu pekan). Dan beberapa hal yang tidak jelas lainnya.
Kalau begitu, mengapa kami bertahan? Karena kami tahu, kalau kami, para guru tak lagi bertahan, maka sekolah ini akan rubuh, karena kamilah penopangnya, kami masih memikirkan anak-anak didik yang kami ajar. Kamilah penopangnya, kami masih memikirkan anak didik yang kami ajar. Jangan dikira hobi merekrut guru baru secara beruntun akan menyelamatkan sekolah ini. Itu hobi yang harus ditinggalkan, karena itu hanya menunjukkan karakter pimpinan sekolah ini yang picik.
Dan suatu saat akan ada masanya tak ada lagi guru yang bisa direkrut. Itu karena calon guru itu (akhirnya) tahu, mereka direkrut hanya untuk segera dikeluarkan.
Kepada pimpinan B******, Apa yang kalian pikirkan tentang dunia pendidikan? Ini sekolah, bukan perusahaan. Jadikanlah B****** sebuah institusi pendidikan yang beradab yang terbuka pada dunia sekeliling, dan melaksanakan aturan sesuai standar yang telah ditetapkan. Negara kita punya hukum, kita punya Dinas Pendidikan, juga Dinas Tenaga Kerja. Bambini harus melakukan penyelenggaraan pendidikan yang sesuai instruksi lembaga-lembaga terkait.
Atau jika tidak, kami akan berusaha menunjukkan jalannya!
Dan tak ada lagi waktu yang paling tepat bagi kami para guru untuk menunjukkan jalan itu selain sekarang. Kami ingin menyaksikan B****** berada pada jalur yang normal, dan tentu saja diperlukan beberapa usaha.
Kami akan meyuarakan dan menyerukan hal ini ke berbagai pihak yang peduli pada keberlangsungan pendidikan bangsa. Ketidakjelasan dan kesewenang-wenangan ini tidak boleh dibiarkan berlangsung terus menerus. Ada saatnya itu harus dihentikan, dan inilah saatnya!
Hidup guru! Hidup Pendidikan bangsa!!

Makassar, 19 Juni 2011, 07.01 PM,

…. sebagaimana yang tertulis di note rekan saya, Hamran Sunu.

Diakhir pembacaan note itu, saya sedih dan meratapi pendidikan di Indonesia. Pendidikan kita kehilangan karakter karena Lembaga dan Institusi Pendidikan yang dibangun dijadikan sebagai pengeruk rupiah, mesin penghasil uang, bukan wadah tempat bersemainya karakter, kompetensi dan cita-cita luhur buat Bangsa….

Posted in Uncategorized | 2 Comments

UAN dan Kunci Jawabannya

“Mam, … kita punya kunci UAN? Adikku akan ujian kodong.”
Dua hari sebelum Ujian Akhir Nasional (UAN), Sms yang bentuknya seperti di atas tiba-tiba saja mampir di telepon genggam istriku. Sms itu kiriman dari Ananda (bukan nama sebenarnya), seorang kakak yang ingin membantu adiknya agar dapat memperoleh nilai UAN yang baik. Mengacu dari sms tersebut dan kejadian-kejadian yang sering berulang, tampaknya UAN tidak pernah lepas dari maraknya banyak pihak yang membocorkan kunci jawaban UAN.
Pernyataan di atas bukannya tanpa bukti, karena malam sebelum ujian hari pertama berlangsung istriku mendapat sms lagi, kali ini dari Ricky (juga bukan nama sebenarnya), yang menyampaikan bahwa dia mempunyai Kunci jawaban UAN dan lagi membagi-bagikannya ke orang-orang yang membutuhkan. Ricky hanya salah satu dari sekian orang yang mendapatkan kunci jawaban dan mungkin mendapatkan kunci jawaban itu dari salah satu dari sekian Oknum Pendidik, Aparat yang terkait, Pengawas, Pengetik soal, Panitia Ujian, Lembaga pendidikan dan lainnya. Peredaran kunci UAN sudah dimulai jauh sebelum UAN itu sendiri dikeluarkan dari amplopnya hari ini.
Yang terjadi sebelum UAN, adalah siswa-siswa belajar… bukan belajar materi mata pelajaran yang akan diujiankan hari ini tapi belajar menghafalkan jawaban yang didasarkan kunci jawaban yang telah beredar. Nilai UAN pun menjadi bias dengan kemampuan yang sebenarnya yang dimiliki oleh siswa. Belum lagi dengan siswa yang kurang beruntung, mereka baru mendapatkan kunci jawaban di saat ujian berlangsung, ada yang diperoleh dari contekan, dikirim melalui sms, didapatkan dari kamar mandi, pengawas ujian, informasi yang dikirimkan secara rahasia. Kemampuan siswa yang semestinya diarahkan kepada kebajikan malah tidak berkembang positif sehingga generasi yang kita dapatkan adalah generasi yang mau menghalalkan segala cara.
Kenyataan ini bukanlah sesuatu yang baru kita sadari ada melainkan kita sadar membiarkannya berkembang. Setiap tahun standar kelulusan UAN makin naik, toh hasil yang diperoleh setiap sekolah juga makin bagus. Walaupun kebijakan sekarang nilai UAN hanya menyumbang 60% dari nilai standar kelulusan siswa, tetap saja kunci jawaban adalah jawaban untuk mendapatkan nilai yang tinggi.

Tulisan ini tidak ingin menghakimi orang-orang yang membocorkan kunci jawaban, juga bukan untuk mengawasi sistem UAN yang berlangsung sekarang, ataupun melecehkan kebijakan kelulusan UAN. Tulisan ini hanya sekedar ungkapan akan sebuah sms yang mampir ke telepon genggam istriku.
Jadi buat mereka yang sedang UAN, mengawas UAN dan memeriksa UAN, Selamat dan Semoga Beruntung.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mencari Himpunan Penyelesaian sebuah ketaksamaan

Pikiran untuk menuliskan judul di atas muncul sewaktu melihat kebanyakan mahasiswa tingkat satu bingung jika mencari himpunan penyelesaian sebuah ketaksamaan yang mempunyai dua faktor linier. Misalnya (x-2)(x+1)>0 ataupun (x-2)(x+1)<0. Ini mungkin disebabkan pembelajaran yang diberikan oleh guru ataupun dosen keliru dalam melakukan langkah jawab dari masalah di atas.
Pada umumnya, ketika dihadapkan pada ketaksamaan di atas, langkah pertama adalah mencari nilai x yang membuat nol persamaan pada ruas kiri. Jadi diperoleh: x=2 dan x=-1. Kemudian untuk mencari himpunan penyelesaian dari ketaksamaan, kita akan membuat garis real. Garis bilangan real akan dibagi menjadi tiga daerah, yaitu x<-1, -1<x2. Langkah berikutnya adalah: ambil masing-masing satu wakil dari tiga daerah itu kemudian uji ke bentuk di ruas kiri, maka diperoleh Himpunan penyelesaian untuk (x-2)(x+1)>0 adalah {x| x>2 atau x<-1}, dan Himpunan penyelesaian untuk (x-2)(x+1)<0 adalah {x|-1<x<2}.
Metode untuk memperoleh solusi ketaksamaan seperti itu secara umum sudah diterima sebagai proses menjawab yang benar. Namun dari sisi kerunutan proses menjawab sepertinya itu bukanlah langkah jawab yang semestinya. Karena kita tidak mendasarkan membuat garis bilangan real itu dari langkah (x-2)(x+1)>0. Dapatkah kita melakukan proses jawab tidak mendasarkan pada sebuah grafik garis bilangan real dan betul-betul melakukan proses jawab dari apa yang diketahui terhadap ketaksamaan itu sendiri?
Bagaimana mendapatkan solusi persamaan (x-2)(x+1)=0, dituangkan dalam proses jawab berikut:
(x-2)(x+1)=0
maka (x-2)=0 atau (x+1)=0
maka x=2 atau x=-1.
Persamaan di atas menyatakan nilai x dapat diperoleh dari kenyataan bahwa jika dua faktor bilangan dikalikan hasilnya nol, maka salah satu faktor itu haruslah sama dengan nol, dan seterusnya… sehingga diperoleh solusinya adalah x=2 atau x=-1.
Marilah kita mencoba untuk menggunakan alur logika dalam menjawab ketaksamaan (x-2)(x+1)>0.

Pandang (x-2)(x+1)>0,
maka (x-2)>0 dan (x+1)>0, atau (x-2)<0 dan (x+1)<0,
maka x>2 dan x>-1, atau x<2 dan x<-1,

Tinjau untuk x>2 dan x>-1.
Maka Nilai-nilai dari x yang memenuhi sekaligus x>2 dan x>-1 adalah x>2. Himpunan {x|x>2} adalah himpunan irisan dari {x|xgt;2} dan {x|x>-1}. Jadi himpunan penyelesaiannya adalah {x|x>2}.

Tinjau untuk x<2 dan x<-1.
Sebaliknya jika keduanya negatif, maka nilai x<2 dan x<-1. Dengan cara yang sama, Nilai-nilai x dari himpunan {x| x<-1} jelas termuat di {x| x<2}. Maka {x| x<-1} adalah irisan dari kedua himpunan {x| x<-1} dan {x| x<2}. Jadi himpunan penyelesaian adalah {x| x<-1}.

Maka ketaksamaan (x-2)(x+1)>0 mempunyai himpunan penyelesaian {x|x>2} atau {x| x<-1}. Atau, cukup dikatakan bahwa himpunan penyelesaiannya adalah {x| x<-1 atau x>2}. Dengan kata lai semua nilai x yang lebih besar dari 2 atau nilai x yang lebih kecil dari -1 merupakan solusi ketaksamaan (x-2)(x+1)>0.

Bagaimana dengan bentuk ketaksamaan (x-2)(x+1)<0?
Caranya sama saja.
Perhatikan bahwa perkalian dua bilangan (x-2) dan (x+1) negatif jika (x-2) negatif dan (x+1) positif atau sebaliknya, (x-2) positif dan (x+1) negatif.
Tinjau untuk (x-2)<0 dan (x+1)>0
Jika (x-2) negatif dan (x+1) positif, maka nilai x harus lebih kecil dari 2 dan harus lebih besar dari -1. Sehingga nilai-nilai x yang memenuhi adalah nilai-nilai x di antara -1 dan 2. Jadi nilai x terletak pada himpunan {x| -1< x<2}.

Tinjau untuk (x-2)>0 dan (x+1)<0.
Jika (x-2) positif dan (x+1) negatif, maka nilai x harus lebih besar dari 2 tapi di sisi lain x harus bernilai lebih kecil dari -1. Fakta ini menunjukkan bahwa himpunan yang memuat x dengan sifat demikian tidak pernah ada.Dengan kata lain Daerah penyelesaiannya adalah himpunan kosong.
Maka himpunan penyelesaian yang mungkin untuk (x-2)(x+1)<0 adalah semua nilai x yang terletak di antara -1 dan 2, atau dituliskan menjadi {x| -1<x <2}.

Jadi ketika kita menghadapi persoalan ketaksamaan haruslah dikembalikan kepada sifat-sifat perkalian dua buah bilangan yang menghasilkan bilangan positif atau bilangan negatif. Proses jawab seperti ini tentu dapat diperumum jika diperoleh kasus tiga faktor linier atau lebih dari sebuah ketaksamaan.
Berikut ini adalah latihan untuk kita semua!

Tentukan himpunan penyelesaian dari ketaksamaan berikut;
1. (1-2x)(x+1) > 0
2. (x+1)(x-3)(2x-5) < 0
3. (2x-1)(x+4)(3x-9) > 0
4. (1-x)(x-2)(x+3)(x-6) < 0
5. (1-x)(x-2)(x+3)(x-6) > 0

Nah, selamat mencoba!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Posted in Uncategorized | Leave a comment